Belum lama ini di kuliah Metode Numerik Geoteknik yang diajar oleh Pak Widjojo A. Prakoso dijelaskan mengenai Grafik Elastis-Plastis secara general dari suatu material. Parameter dari sifat plastis adalah kuat batas (atau biasa disebut dengan ultimate strength dari suatu material), dan parameter dari sifat elastis adalah deformasi (perubahan bentuk dari material tersebut). Karena setiap material memiliki perbedaan (dalam kekuatannya) maka setiap material memiliki grafik elastis-plastis yang berbeda. Contoh sederhananya saja adalah baja dengan beton.

Manusia pun memiliki kemampuan menahan beban yang berbeda-beda dan berdeformasi yang berbeda pula. Dalam setiap ujian yang diberikan Allah Swt, maka respon antara satu manusia dengan manusia lainnya akan berbeda dan kemampuan berdeformasi secara elastis-nya pun berbeda. Misalkan jika Allah berkehendak memberikan peringatan melalui bencana alam, maka beberapa respon yang mungkin diberikan oleh manusia adalah trauma sejadi-jadinya dan sulit menerima kenyataan bahwa dia mengalami bencana alam dan harus kehilanangan harta bendanya yang selama ini dikumpulkan, namun ada juga yang meresponnya dengan menerima ujian yang diberikan oleh Allah dan menganggapnya sebagai bagian dari ”ujian kenaikan keimanan”. Berdeformasi adalah suatu hal yang diperkenankan selama berada dalam batas toleransi deformasi, dan hal tersebut adalah sesuatu yang wajar mengingat bahwa sesungguhnya tidak ada material yang berdeformasi elastis secara utuh di muka bumi ini. Maka menurut hemat saya ”mengalami perubahan” setelah menghadapi ujian dari Allah adalah sesuatu yang wajar, asalkan perubahan itu menuju ke arah kebaikan. Maka yang menjadi tugas kita adalah bagaimana diri kita dalam menghadapi ujian kehidupan, masih berada dalam deformasi elastis, bukan berada dalam grafik plastis-nya atau bahkan mencapai batas kekuatannya (ultimate strength).

Dalam terminologi psikologi ada yang dinamakan dengan adversity quotient (AQ), yaitu suatu penilaian yang mengukur bagaimana respon seseorang dalam menghadapai masalah untuk dapat diberdayakan menjadi peluang.Adversity Quotient dapat menjadi indikator seberapa kuatkah seseorang dapat terus bertahan dalam suatu pergumulan, sampai pada akhirnya orang tersebut dapat keluar sebagai pemenang, mundur di tengah jalan atau bahkan tidak mau menerima tantangan sedikit pun.

Maka menjadi lebih kuat adalah pilihan yang bijak karena dengan menjadi kuat beban yang ditahan menjadi bertambah.

“ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yanglemah dalam setiap amal kebaikan “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Qadar, bab. Iman lil-Qadari wal-Idz’aan lahu).

Wallahu alam bishowab….

Referensi

http://www.fisikaholic.com/modulus.php

http://id.shvoong.com/books/1855052-adversity-quotient-mengubah-hambatan-menjadi/