Bismillah.

Dari sudut gelap itu, berjalan perlahan seorang pria, bukan pria yang spesial sebenarnya, bukan pula pria yang biasa-biasa saja. Saat ini pria itu berada di gerbang impiannya, gerbang harapan, gerbang perubahan, gerbang dari cerita-cerita pada masa golden age, ketika indahnya perjalanan Salman Al-Farisi mencari Tuhan bertahun-tahun lamanya, ketika Abu Dzar tokoh “bandit” menjadi begitu teduhnya karena naungan cinta dari Sang Khalik. Ini adalah persimpangan itu, persimpangan yang bisa membawa kepada mata rantai menuju Jannah, atau justru sebaliknya. Jalan ini menjadi jalan yang berbahaya sebenarnya, “jalan amanah”, masih teringat kuat ketika Umar bin Adul Aziz pada suatu malam tiba-tiba mematikan lampu rumahnya karena “amanah”.

Kementerian ini adalah sebuah amanah bagi pria itu, kementerian yang membangun sarana fisik bagi umat, menfasilitasi umat, layaknya Andalusia pada masa itu, saat jalan-jalan Andalusia begitu tertata rapihnya sementara eropa bagian lain begitu kumuhnya. Jalan menjadi pelayan bagi umat. Memberi kebermanfaatan bagi orang lain. Sejak pertama kali diumumkan, bukanlah kesenangan yang hadir menyelimuti, tapi entah kenapa tiba2 saja sosok Umar bin Abdul Aziz yang teringat, amanah, amanah, amanah…

Maka Ya Allah, di awal ini muliakanlah jalan ini, sebagaimana kau muliakan dulu jalannya para pemimpin yang soleh, yang amanah, yang zuhud, yang tawadhu, yang berani. Sesungguhnya, kematian itu sungguh dekat dengan kami, maka jadikanlah jalan ini jalan untuk menggapai ridho-Mu.

 

Tyo, 12 Rabiul Awal 1431 H.