Bismillah.

Dari sudut gelap itu, berjalan perlahan seorang pria, bukan pria yang spesial sebenarnya, bukan pula pria yang biasa-biasa saja. Saat ini pria itu berada di gerbang impiannya, gerbang harapan, gerbang perubahan, gerbang dari cerita-cerita pada masa golden age, ketika indahnya perjalanan Salman Al-Farisi mencari Tuhan bertahun-tahun lamanya, ketika Abu Dzar tokoh “bandit” menjadi begitu teduhnya karena naungan cinta dari Sang Khalik. Ini adalah persimpangan itu, persimpangan yang bisa membawa kepada mata rantai menuju Jannah, atau justru sebaliknya. Jalan ini menjadi jalan yang berbahaya sebenarnya, “jalan amanah”, masih teringat kuat ketika Umar bin Adul Aziz pada suatu malam tiba-tiba mematikan lampu rumahnya karena “amanah”.

Kementerian ini adalah sebuah amanah bagi pria itu, kementerian yang membangun sarana fisik bagi umat, menfasilitasi umat, layaknya Andalusia pada masa itu, saat jalan-jalan Andalusia begitu tertata rapihnya sementara eropa bagian lain begitu kumuhnya. Jalan menjadi pelayan bagi umat. Memberi kebermanfaatan bagi orang lain. Sejak pertama kali diumumkan, bukanlah kesenangan yang hadir menyelimuti, tapi entah kenapa tiba2 saja sosok Umar bin Abdul Aziz yang teringat, amanah, amanah, amanah…

Maka Ya Allah, di awal ini muliakanlah jalan ini, sebagaimana kau muliakan dulu jalannya para pemimpin yang soleh, yang amanah, yang zuhud, yang tawadhu, yang berani. Sesungguhnya, kematian itu sungguh dekat dengan kami, maka jadikanlah jalan ini jalan untuk menggapai ridho-Mu.

 

Tyo, 12 Rabiul Awal 1431 H.

 

 

Bismillah…

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya alhamdulillah kesempatan menulis di blog ini datang kembali. Inspirasi judul tulisan ini sebenarnya sudah lama ada, tapi kemudian diperkuat kembali dengan tayangan MetroTV Kick Andy pada tanggal 4 Juni 2010 kemarin yang berjudul “Semua Demi Anakku”.

Yup, acara Kick Andy pada saat itu menceritakan tentang 3 keluarga, dengan jumlah anak banyak (lebih dari 10 anak), dan memiliki kesamaan yaitu suami (ayah dari anak2 yang banyak ini) meninggal dengan meninggalkan banyak tantangan (ekonomi, pendidikan, dll), namun pada akhir cerita 3 keluarga ini berhasil melahirkan manusia-manusia berprestasi (anak2 mereka). Paling tidak dari acara tersebut, sesuai dengan inspirasi tulisan saya, ayah (sebelum meninggal) dan ibu mereka berhasil membuat sebuah memori emas di dalam cara berpikir anak-anaknya, yaitu tentang kejujuran, jangan menyerah, keikhlasan dan lain-lain. Memori ini menjadi bahan bakar bagi anak-anaknya dalam meraih prestasi pendidikan yang kemudian dapat dibanggakan oleh kedua orang tuanya. Memori ini sesungguhnya akan semakin mengakar ketika anak-anaknya dihadapkan pada keterbatasan (terutama secara ekonomis, lingkungan dan budaya).

Saya jadi tiba2 teringat pada film jepang seperti GTO (Great Teacher Onizuka Drama Series), Blue Bird (Aoi Tori) atau misalnya pada film Holywood seperti Batman yang kesemuanya menceritakan tentang pengaruh masa kanak (memori yang terbentuk pada masa itu) terhadap masa depan. Baik, saya coba jelaskan sedikit garis besarnya :
1. Drama Series GTO, bercerita tentang guru bernama Onizuka, yang sebenarnya tidak terlalu pandai dalam akademis, namun memiliki keunggulan dalam mendidik, jadi si Onizuka ini lebih banyak mendidik daripada mengajar (perbedaan definisi antara mengajar dan mendidik). Kebetulan si Onizuka menjadi wali kelas dari kelas yang kacau, kelas yang bermasalah yang berhasil membuat kapok banyak wali kelas. Dalam perjalanannya Onizuka berhasil membuat murid-murid di kelasnya menjadi murid yang baik dengan jalan membantu menyelesaikan masalah (perilaku berandal mereka) dengan tidak mengabaikan masa kanak2 (masa sebelumnya) yang turut membentuk pola perilaku berandalan mereka. Ya. salah satu caranya dengan pendekatan ke keluarga mereka dan alhasil bukan perilaku muridnya saja yang berubah melainkan juga Onizuka mendapatkan kepercayaan bukan hanya sebagai guru juga melainkan sebagai teman.

GTO & AOI TORI

2. Blue Bird (Aoi Tori), film ini sebenarnya ceritanya cukup serius dan membosankan, tapi pelajaran yang bisa dipetiksungguh dalam. Film ini bercerita tentang Bullying (kekerasan) yang terjadi di suatu kelas di Jepang, yang pengaruh ekstrimnnya adalah bunuh diri bagi siswa yang di bullying. Di suatu kesempatan, kelas tersebut kedatangan wali kelas baru/ pengganti. Sebelum memulai kelas, seperti biasa, wali kelas ini meng-absen murid2, dan kemudian mendapati bahwa 1 murid tidak ada (murid yang bunuh diri tadi namanya Nobuki,,, ya iyalah wong sudah meninggal), tapi kemudian yang membuat terkejut murid2 adalah guru tersebut memasukkan kursi dan meja Nobuki ke dalam kelas dan  meletakkannya pada posisi dimana Nobuki biasa duduk. Dan,, alhasil,, hal ini membuat kesal murid2 di kelas, dan yang lebih mengesalkan lagi bagi murid-murid adalah si guru ini mempunyai kebiasaan selalu meng-absen Nobuki meskipun dia tahu bahwa Nobuki sudah meninggal. Pada suatu kesempatan, terjadi perdebatan yang panas antara si guru tersebut dengan murid-murid lainnya. Karena diketahui bahwa penyebab meninggalnya Nobuki (menurut klipping koran) adalah bullying dari teman-teman sekelasnya, dan faktanya banyak yang menutupi hal ini termasuk pihak sekolah. Sebenarnya kegelisahan, kegundahan, ketidaknyamanan, merasa bersalah menjadi tertanam di benak teman sekelasnya. Mereka sadar bahwa penyebab kematian Nobuki adalah bukan bunuh diri, tapi teman-teman sekelas mereka yang telah membunuh Nobuki secara tidak langsung, dan yup.. mereka merasakan bahwa mereka adalah pembunuhnya. Di akhir cerita, si guru tersebut memandu siswa-siswa tersebut agar tidak melupakan kejadian itu (dengan membiarkan Nobuki hadir di dalam kelas, maksudnya ada kursi sama mejanya di kelas) maka dengan begitu,, mereka telah bertanggung jawab dan mengingatkan agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.
3. Batman, sepertinya sudah banyak yang tahu… Bermula dari pembunuhan ayah dari Bruce Wayne (si Batman) yang kaya raya oleh gelandangan yang ingin merampok ayahnya Si Bruce Wayne, dan kemudian karena persitiwa inilah si Bruce Wayne kecil bertekad menjadi pembela kebenaran.

Selain dari Film di atas sebenarnya masih banyak lagi film-film lainnya.
Baiklah, dari ketiga film di atas ada satu kesamaan, apa itu? Yup,, Benar Memori. Memori yang pernah kita dapatkan sesungguhnya akan  membentuk diri kita, misalnya ada memori tentang suatu kejadian yang tidak bisa kita lupakan dan kemudian akan membentuk karakter kita dan boleh jadi melampiaskannya. Sebut saja Adolf Hitler, yang menurut suatu sumber dikatakan bahwa Ibu dari Hitler pernah berselingkuh dengan salah seorang Yahudi Jerman, yang kemudian Hitler tidak bisa menerima itu sebagai sebuah kenyataan dan kemudian melakukan pembantaian massal terhadap Yahudi (Hollocaust) pada fase perang dunia kedua. Sedemikian dahsyatnya kebencian Hitler akan Yahudi. Sehingga setiap Yahudi yang ada di Jerman pada saat itu harus ditiadakan. Lagi-lagi memori (kebencian) mengambil peranan penting…

Atau misalnya sejarah bangsa Jepang, yang menjadi kilas balik kebangkitan Jepang, pasca di bom atomnya Nagasaki dan Hiroshima. Ribuan mahasiswa jenius jepang, menjadi amunisi kebangkitan dengan mengirimkan mereka ke USA tuk mencuri ilmu dan membawanya pulang ke Jepang. Bahkan pada suatu kesempatan mereka sempat mengirimkan teknologi mobil terbaru US tuk dibongkar di Jepang dan dipelajari. Oleh karena itu, sekarang USA kapok… dan ketika Jepang hendak membeli pesawat tempur Stealth (siluman) USA, maka USA menolak rencana pembelian pesawat itu. Kekalahan jepang pada perang dunia kedua (memori kebangkitan) menjadi titik balik Jepang seperti yang kita saksikan saat ini (secara teknologi)..

Dalam konteks ke-Indonesia-an kita, dengan belajar dari sejarah pendudukan asing di Indonesia dan dengan masa perjuangan kemerdekaan yang lama yang konon kabarnya akibat dari kebodohan bangsa pada masa itu,,, mungkinkah dapat kita jadikan memori kebangkitan di hari ini?? Atau kalau penulis boleh bercuriga, jangan2 ada memori sejarah kebangsaan yang kita lupakan atau tidak sampai ke generasi berikutnya (baca: perbaikan sistem pendidikan), dan transparansi sejarah kita…

Dalam konteks ke-ISlaman, memori tentang Rosulullah SAW, para sahabat, dan para pemimpin Islam sesudahnya yang menjadi keyakinan saya bahwasanya ada memori yang gagal disampaikan dan atau tidak terbentuk pada putra-putra Islam.. atau misalnya cerita seperti titik-titik perlawanan penjajahan di Indonesia adalah di pesantren-pesantren saat itu… dan perjuangan kemerdekaan pada saat itu adalah perjuangan perperangan dengan lafadz takbir di dalamnya…

Maka bagi para pemuda aktivis, yang menjadi perhatian adalah menciptakan memori ini dengan baik…

Wallahu alam Bishowab

Saat itu pada dini hari senin tanggal 15 Juni 2009, seluruh anggota tim telah berkumpul di Pondok Rio Kuktek (kosan Ipin, Imam, Hastomi, Aji dan Randi) Kuktek. Situasi sedikit carut marut, matras, plastik trash bag, logistik (makanan dan minuman), tergeletak berserakan di ruangan besar di depan kamar kos2an lantai 2. Anggota tim pendakian kembali me-review peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan sambil packing ulang. Setelah selesai packing kemudian seluruh anggota tim beristirahat sembari mengumuplkan tenaga untuk perjalanan besok paginya. Pendakian kali ini di-atasnama-kan pendakian sipil ui 2005. Tim terdiri atas Hastomi, Eka, Aji, Tyo, Alvis, Ipin, Gusto.

Pengajian menjelang Subuh terdengar begitu syahdu-nya dari Pondok Rio Kuktek, menandakan bahwa sesaat lagi adzan Subuh akan berkumandang. Beberapa anggota tim telah terbangun, dan bersiap-siap melaksanakan Sholat Subuh. Sekitar jam 5 lewat beberapa menit, seluruh anggota tim telah siap berangkat menuju Stasiun UI. Untuk memenuhi perbekalan terutama makan siang, maka diputuskan bahwa tim memesan nasi warteg. Setibanya di Stasiun UI, tak lama kereta menuju Bogor tiba. Kemudian sesampaianya di Bogor, tim menyempatkan untuk sarapan pagi di gang di samping Polres Bogor. Menu Bubur Ayam Khas Bogor dan Nasi Uduk menjadi pilihan anggota tim. Perjalanan dilanjutkan dengan  angkutan umum menuju Ciheuleut dan kemudian di sambung dengan menumpang angkutan Mitsubishi L300 atau biasa disebut disebut dengan Colt Putih atau Colt “Maut” dan selanjutnya di sambung lagi dengan angkutan menuju Cibodas. Setibanya di Cibodas, beberapa anggota tim sempat membeli perlengkapan berupa sarung tangan. Berikutnya adalah pos pertama yang  menjadi tujuan tim, melapor pada petugas sekaligus menyempatkan diri untuk ke kamar kecil. Dengan segala kerendahan hati, tim berdoa pada Allah Swt untuk keselamatan dalam perjalanan, karena sesungguhnya pendakian ini hanya bagian dari rasa cinta tim kepada alam, dan perjalanan ini pula sesungguhnya akan membuktikan kecilnya anggota tim di hadapan semesta ini, terlebih di hadapan pencipta alam semesta. Pendakian pun dimulai. Bagi beberapa anggota tim, pendakian ini bukanlah pendakian pertama kalinya, namun bagi anggota tim lainnya ini adalah pendakian pertama.

Sekitar pukul 5 sore, akhirnya tim sampai di air panas. Di kali kecil di dekat air panas, tim melakukan sholat Jama’ Qashar Dzuhur dan Ashar. Beberapa anggota tim lainnya menyempatkan diri untuk mandi dan membasahkan badan.  Tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pos Kandang Badak, dan akhirnya pada sekitar pukul 06.00 tim tiba di pos tsb. Di kandang badak, tim beristirahat sembari mengisi persediaan air untuk di Puncak Gede, karena di Puncak Gede tidak ada sumber air. Di pos ini, tim sempat bertegur-sapa dengan pendaki lain dari Cilandak. Mereka malam ini akan nge-camp di pos kandang badak, sementara tim tetap bertekad melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gede meskipun langit telah gelap. Pendakian pun kembali dimulai dengan memanjatkan doa kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Senter pun dikeluarkan, dan perjalanan dimulai. Pada sisa perjalanan ini daya tahan tim mulai diuji. Stamina mulai terkuras habis, rasa kantuk mulai hinggap, nafas pun mulai tak teratur kembali, dan hawa dingin mulai terasa saat tim beristirahat, ingin rasanya cepat sampat di puncak sana. Tak lama berjalan, tim kemudian harus melewati tanjakan setan. Tanjakan ini menjadi ujian tersendiri bagi tim. Di tengah malam yang gelap, tim dipaksa untuk melewati tanjakan dengan kemiringan yang nyaris vertikal 90 derajat. Akhirnya tim tiba di tepi Puncak Gede pukul 22.10. Dengan bergegas tim mendirikan 2 tenda dome. Beberapa di antara anggota tim memilih tidur sementara yang lainnya memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu. Menu malam itu adalah Nasi + Sarden + Mie Instan. Selesai makan anggota tim masuk ke tenda untuk kemudian beristirahat. Pagi saat fajar mulai menyingsing, tim melaksanakan Sholat Subuh, dan Kemudian anggota tim lainnya (Aji) menuju Puncak Gede untuk menyaksikan Sun Rise. Subhanallah, pagi itu benar2 luar biasa, tim dihadapkan pada Keagungan Ilahi yang luar biasa hebatnya. Jingga warna fajar perlahan mulai bercampur dengan birunya langit, subhnallah…. Kekerdilan tim sebagai manusia saat itu begitu terasa. Pagi itu tim menyempatkan berfoto-foto mengabadikan momen yang luar biasa tsb. sembari sarapan pagi roti dengan minuman hangat energen.

Sekitar pukul 08.00 tim bergegas melanjutkan perjalanan, setelah sebelumnya merapikan tenda dan packing ulang serta melakukan aktivitas “panggilan alam”. Di 20 menit perjalanan ini, tim dapat melihat Gunung Pangrango dengan jelas (karena saat itu masih pagi dan belum ada kabut). Di Puncak Gede, tim bertemu dengan pendaki lain yang berasal dari Bandung (Mahasiswa UPI).  Setelah berfoto-foto kemudian tim melanjutkan perjalanan menuju Padang Suryakencana. Tak butuh waktu lama bagi tim untuk menuruni puncak gede menuju Suryakencana. Di Padang Suryakencana, tim membersihkan alat makan dan kemudian memasak makanan untuk makan siang serta melakukan Sholat. Menu makanan kali ini luar biasa mantab, nasih putih, tempe orek manis, tempe orek pedas, rendang, abon, mie instan, sarden, subhanallah luar biasa nikmatnya… Karena Menu makanan kali ini terlalu banyak, maka tim berbagi makanan dengan tenda sebelah yang merupakan para pendaki dari Tanjung Barat. Kemudian sekitar pukul 13.00 tim bergegas menuruni padang Suryakencana melalui jalur Gunung Putri, dan akhirnya tiba di pos gunung putri saat adzan maghrib mulai terdengar.

Belum lama ini di kuliah Metode Numerik Geoteknik yang diajar oleh Pak Widjojo A. Prakoso dijelaskan mengenai Grafik Elastis-Plastis secara general dari suatu material. Parameter dari sifat plastis adalah kuat batas (atau biasa disebut dengan ultimate strength dari suatu material), dan parameter dari sifat elastis adalah deformasi (perubahan bentuk dari material tersebut). Karena setiap material memiliki perbedaan (dalam kekuatannya) maka setiap material memiliki grafik elastis-plastis yang berbeda. Contoh sederhananya saja adalah baja dengan beton.

Manusia pun memiliki kemampuan menahan beban yang berbeda-beda dan berdeformasi yang berbeda pula. Dalam setiap ujian yang diberikan Allah Swt, maka respon antara satu manusia dengan manusia lainnya akan berbeda dan kemampuan berdeformasi secara elastis-nya pun berbeda. Misalkan jika Allah berkehendak memberikan peringatan melalui bencana alam, maka beberapa respon yang mungkin diberikan oleh manusia adalah trauma sejadi-jadinya dan sulit menerima kenyataan bahwa dia mengalami bencana alam dan harus kehilanangan harta bendanya yang selama ini dikumpulkan, namun ada juga yang meresponnya dengan menerima ujian yang diberikan oleh Allah dan menganggapnya sebagai bagian dari ”ujian kenaikan keimanan”. Berdeformasi adalah suatu hal yang diperkenankan selama berada dalam batas toleransi deformasi, dan hal tersebut adalah sesuatu yang wajar mengingat bahwa sesungguhnya tidak ada material yang berdeformasi elastis secara utuh di muka bumi ini. Maka menurut hemat saya ”mengalami perubahan” setelah menghadapi ujian dari Allah adalah sesuatu yang wajar, asalkan perubahan itu menuju ke arah kebaikan. Maka yang menjadi tugas kita adalah bagaimana diri kita dalam menghadapi ujian kehidupan, masih berada dalam deformasi elastis, bukan berada dalam grafik plastis-nya atau bahkan mencapai batas kekuatannya (ultimate strength).

Dalam terminologi psikologi ada yang dinamakan dengan adversity quotient (AQ), yaitu suatu penilaian yang mengukur bagaimana respon seseorang dalam menghadapai masalah untuk dapat diberdayakan menjadi peluang.Adversity Quotient dapat menjadi indikator seberapa kuatkah seseorang dapat terus bertahan dalam suatu pergumulan, sampai pada akhirnya orang tersebut dapat keluar sebagai pemenang, mundur di tengah jalan atau bahkan tidak mau menerima tantangan sedikit pun.

Maka menjadi lebih kuat adalah pilihan yang bijak karena dengan menjadi kuat beban yang ditahan menjadi bertambah.

“ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yanglemah dalam setiap amal kebaikan “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Qadar, bab. Iman lil-Qadari wal-Idz’aan lahu).

Wallahu alam bishowab….

Referensi

http://www.fisikaholic.com/modulus.php

http://id.shvoong.com/books/1855052-adversity-quotient-mengubah-hambatan-menjadi/

Mengencangkan rantai motor yang kendor memang sepertinya terlihat mudah. Terlebih apalagi kalau kita biasa menyerahkannya kepada orang bengkel yang biasa mengerjakan pekerjaan tesebut. Meskipun demikian sebenarnya mengecangkan rantai roda motor tidak semudah seperti yang terlihat. Memang kalau hanya untuk sekedar mengencangkan saja, maka pekerjaan mengencangkan rantai roda motor akan sangat mudah. Tetapi persoalan yang seringkali ada adalah posisi roda motor bagian belakang yang tidak lurus dengan roda depannya sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan risiko yang lebih jauh.
Pada kesempatan kali ini saya ingin membagi pengalaman dalam mengencangkan rantai kendor.
1. Longgarkan semua baut yang terhubung dengan proses pengencangan rantai seperti: baut penjepit rantai (agar rantai tidak berubah settingan-nya, baut No. 23 mm Honda Supra X 100 cc), baut as roda belakang, baut No. 17, baut pengatur ketegangan rantai, baut No. 10
Untuk baut pengatur ketegangan rantai, pastikan berada pada kondisi paling longgar.

2. Goyangkan/ guncangkan roda belakang sehingga dapat terlihat indikator kelurusan roda belakang berada pada posisi yang sama dengan roda depan. Usahakan semaksimal mungkin berada pada posisi yang sama antara garis indikator sebelah kiri dengan garis indikator sebelah kanan. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya risiko-risiko yang tidak diinginkan ketika anda melakukan manuver pada saat berkendara.
3. Setelah berada pada posisi yang sama, kemudian anda dapat mengencangkan baut No. 23 perlahan-lahan, tetapi jangan sampai pada posisi yang terlalu kencang. Kemudian atur ketegangan roda, sesuai dengan standar motor anda, dengan mengatur baut No 10 (Honda Astrea Supra X ketegangan rantai 35 mm). Jikalau telah selesai, anda dapat mengencangkan kembali baut No 7 23 sampai pada posisi kencang
4. Setelah selesai dilakukan, kemudian baut No. 17 dapat dikencangkan. Pastikan baut ini terpasang kuat, karena baut ini adalah komponen penyangga roda belakang motor anda.
Jikalau sempat anda dapat memberikan pelumas pada rantai anda. Hal ini selain berfungsi untuk mengurangi gesekan antara rantai dengan gear roda juga berfungsi untuk mengurangi bunyi yang timbul akibat gesekan dan sedikit banyak dapat menambah usia gear atau rantai motor anda.


Hari ini baru saja kembali dari lokasi proyek, tempat saya melakukan kerja praktek di Jalan Pasar Minggu, Kalibata. Kembali ke lokasi proyek karena ada beberapa data tambahan yang masih ingin dicari. Suasana di lokasi proyek sekarang berbeda dengan kondisi dulu pada saat saya datang ke lokasi proyek pertama kali. Pada saat pertama kali datang saya dan kelompok (eko dan teguh) mendapati suasana yang kaku meskipun sebenarnya tidak terlalu mengganggu, tetapi tadi suasana begitu cair dan bapak2 yang semula ‘kurang bersahabat’ menjadi bersahabat dalam tanya jawab beberapa menit mengenai beberapa persoalan2 yang biasa ada di dalam proyek. Dalam tanya jawab itu si bapak seringkali berbagi pengalamannya dalam menangani suatu proyek. Menarik Sekali.
Suatu proyek tidak akan sama dengan proyek lainnya apalagi dengan industri manufaktur. Dalam mengelola proyek dibutuhkan skill tersendiri dan pengetahuan serta wawasan yang luas.
Bayangkan saja, dalam suatu periode waktu yang sangat singkat dan dengan sumber daya keuangan yang terbatasi oleh kontrak (di luar additional oder) suatu proyek harus tetap berjalan dan terselesaikan sementara pada saat yang sama ada 1001 persoalan, mulai dari pekerja yang membandel (kalau yang ini sih banyak banget), kesalahan teknis, sampai masalah klaim yang diajukan owner. Suatu proyek akan bersifat begitu dinamis dari berbagai sisi.
Proyek merupakan akibat dari mekanisme demand-supply. Misalnya saja ditempat KP saya yang meruapkan proyek apartemen. Jika dilihat saat ini, pemukiman berbasis lahan horizontal, sudah tidak memungkinkan, oleh karena itu yang paling mungkin saat ini adalah pengadaan lahan vertikal, ya… salah satunya dengan apartemen.

Saat kelas 3 SMA dulu menjelang ujian SPMB, pertanyaan yang biasa diajukan adalah pilihan (univesitas dan program studi) apa yang akan diambil. Sejumlah literatur pun saat itu disiapkan, mulai dari nama besar perguruan tinggi, akreditasi program studi, biaya kuliah yang dibutuhkan per semester, biaya hidup yang dibutuhkan (kos-kosan), beasiswa yang ditawarkan, sampai life style sebagian besar mahasiswa yang terdapat pada PT (perguruan tinggi) tersebut. Akreditasi dan nama besar perguruan tinggi selama ini terbukti cukup menjadi hal yang berpengaruh bagi siswa-siswi SMA dalam menentukan pilihan studi perguruan tingginya nanti.

Akreditasi serupa juga baru saja dilakukan di jurusan (baca:program studi) tempat penulis kuliah, Teknik Sipil UI. Untuk akreditasi tingkat nasional, Teknik Sipil UI mendapatkan kategori A (BAN-PT, Tahun 2008). Namun yang baru saja dilakukan bukanlah akreditasi tingkat nasional, melainkan tingkat Internasional. Akreditasi ini dilakukan oleh AUN (Asean University Network) yang bermarkas di Bangkok , Thailand.


Referensi :
www.tasikmalayakota.go.id/pnbb/viewtopic.php?id=18 – 45k